Puluhan ribu warga Palestina berkumpul di Kota Gaza pada 4 Agustus 2026 untuk memberikan penghormatan terakhir kepada 112 anggota keluarga Abu Sharia dan al-Hasayna, yang telah ditemukan setelah terjebak di bawah reruntuhan selama hampir tiga tahun. Pemakaman ini menjadi salah satu yang terbesar sejak dimulainya konflik yang mengerikan antara Israel dan Gaza.
Tim penyelamat berhasil menemukan jasad-jasad tersebut di lokasi serangan yang terjadi pada 22 November 2023, yang mengakibatkan 308 orang tewas, termasuk 40 anak-anak, 30 wanita, dan tujuh penyandang disabilitas. Setelah penemuan ini, keluarga yang kehilangan dapat melaksanakan ritual pemakaman dan doa bagi orang-orang tercinta mereka.
Proses pemakaman diwarnai dengan barisan peti mati yang dilapisi bendera Palestina, sementara para pelayat mengungkapkan kesedihan mereka. Spanduk besar yang menampilkan foto-foto korban turut dipamerkan, bersamaan dengan seruan untuk mengakhiri perang yang dilancarkan Israel terhadap Gaza sejak Oktober 2023.
Juru bicara Pertahanan Sipil Palestina, Mahmoud Basal, menyebutkan bahwa acara pemakaman ini adalah salah satu yang terbesar selama perang, menggambarkan betapa besarnya kerugian yang dialami oleh keluarga-keluarga Palestina yang telah menunggu bertahun-tahun untuk menguburkan kerabat mereka. Rasa duka juga dirasakan oleh para peneliti, aktivis, dan pembela hak asasi manusia di Palestina, yang melihat pemakaman ini sebagai simbol penderitaan keluarga yang masih menunggu untuk menemukan anggota keluarga mereka yang terkubur.
Mustafa Barghouti, Sekretaris Jenderal Inisiatif Nasional Palestina, menyatakan bahwa pemakaman ini bisa jadi adalah yang terbesar dalam sejarah Palestina. Peneliti Palestina, Mahmoud Hamed al-Aila, menyoroti bahwa Gaza sedang “mengeluarkan jasad anak-anaknya dari bawah reruntuhan setelah bertahun-tahun genosida”.
Aktivis Mohammed Haniyah menambahkan bahwa masih banyak jasad lain yang telah membusuk atau hilang di bawah reruntuhan. Ali Abo Rezeq, seorang aktivis lainnya, mengungkapkan bahwa prosesi ini mengubah “statistik pembantaian menjadi peti mati dan kain kafan”, menunjukkan betapa beberapa keluarga mencari di antara puing-puing dengan tangan kosong karena kurangnya alat berat.
Para blogger, termasuk Malik Al-Shanbari dan Khaled Safi, menilai pemakaman ini bukan hanya sekadar upacara penguburan, tetapi juga sebagai “testimoni baru tentang besarnya tragedi yang ditinggalkan oleh perang”. Ramy Abdu, ketua Euro-Med Human Rights Monitor, menyebutkan bahwa sekitar 200 anggota keluarga Abu Sharia masih diyakini berada di bawah reruntuhan, dan kemungkinan besar jasad mereka telah membusuk.
Acara pemakaman ini juga menjadi sorotan bagi ribuan keluarga Palestina lainnya yang masih menunggu untuk menemukan jasad kerabat mereka yang hilang di bawah reruntuhan di seluruh Gaza. Pemakaman ini diadakan di tengah pelanggaran Israel terhadap gencatan senjata yang sedang berlangsung.